Selamat Datang di Ngemplak Go Online. Untuk menampilkan info anda di sini, silakan hub : 0896 8881 7900
Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

DAMPAK TOL SOKER: Pemkab Boyolali Didesak Turun Tangan

Ditulis oleh Abu Jundi pada 30 Januari 2013 | 05.56

Jajaran DPRD Boyolali mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat turun tangan menyikapi persoalan yang muncul terkait pelaksanaan pembangunan jalan tol Solo-Kertosono (Soker).
Salah satu persoalan adalah rusaknya sejumlah sarana dan prasarana di beberapa wilayah, akibat terkena dampak proyek pemerintah pusat tersebut. Di sisi lain, pihak pelaksana proyek juga diminta segera mengganti kerugian yang ada.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Boyolali, Musthofa Safawi mengakui hingga kini belum menerima pengaduan resmi dari masyarakat atau petani menyangkut kerusakan 3.420 meter saluran irigasi di empat desa di Ngemplak, yang terkena dampak proyek tol Soker. Namun pihaknya menyatakan siap memfasilitasi petani ataupun pihak pelaksana proyek tol, jika tidak ada tanggapan.
“Terkait kerusakan tersebut, seharusnya pihak pelaksana proyek tol segera memperbaiki saluran-saluran itu sebagaimana mestinya agar berfungsi seperti sedia kala. Karena kerusakan itu menyebabkan petani tidak bisa menggarap lahannya pada musim tanam I ini. Pihak pengelola tol harus mengganti pula kerugian yang ditanggung petani yang tidak bisa menggarap lahannya,” ujar Musthofa ketika dimintai tanggapan seputar persoalan terkait dampak pembangunan jalan tol Soker, Minggu (27/1/2013).
Hal senada dikemukakan Wakil Ketua DPRD Boyolali, Fuadi. Pihaknya menyatakan DPRD siap memfasilitasi masyarakat yang merasa dirugikan dengan pelaksanaan proyek pembangunan jalan tol tersebut. “Ya kalau ada warga yang merasa dirugikan, silakan mengadukan kepada kami, kami siap memfasilitasi,” kata Fuadi.
Pengawasan Lemah
Terpisah, menurut anggota Komisi III DPRD Boyolali, Tugiman, munculnya persoalan terkait pelaksanaan pembangunan jalan tol tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan dari kalangan eksekutif setempat.
“Semestinya selaku pemilik wilayah, Pemkab juga memantau dan mengawasi pelaksanaan proyek itu di lapangan. Jangan beralasan karena itu proyek pemerintah pusat atau proyek nasional, hingga Pemkab lepas tangan. Padahal dalam pelaksanaannya di sini, ada masyarakat setempat yang dirugikan,” papar Tugiman.
Selain saluran irigasi tersier, kerusakan juga terjadi di beberapa ruas jalan di wilayah yang dilalui proyek pembangunan jalan tol tersebut. Menurut Tugiman semestinya Pemkab, melalui dinas terkait, tegas menyangkut izin yang diberikan.
“Hal yang pertama terkait izin tol, mestinya yang tidak diberikan izin ya harus ditindak dan diberhentikan. Kemudian yang kedua menyikapi sejumlah ruas jalan yang rusak akibat banyaknya truk dengan tonase melebihi ketentuan kapasitas jalan, Pemkab seharusnya menghentikannya,” tandas Tugiman.
Diberitakan sebelumnya, saluran irigasi tersier di empat desa, yaitu Donohudan, Sawahan, Pandeyan dan Dibal dengan panjang 3.420 meter rusak terkena dampak proyek pembangunan jalan tol Solo-Kertosono (Soker). Akibatnya, pertanian milik ratusan warga pada dua musim tanam ini terganggu.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/27/dampak-tol-soker-pemkab-boyolali-didesak-turun-tangan-372600

Tanah Diserobot Jalan Tol, Petani Protes

Puluhan petani di wilayah Kecamatan Ngemplak, Boyolali memprotes penyerobotan tanah oleh proyek jalan tol Solo-Kertosono. Selain itu, petani juga memprotes saluran irigasi rusak dan material proyek yang meluber ke areal pertanian. Kondisi ini mengakibatkan pemilik lahan tidak bisa menanaminya.
Areal pertanian yang diserobot proyek jalan tol berada di Kecamatan Ngemplak, diantaranya Desa Donohudan, Sindon, Ngesrep, Pandeyan, dan Sawahan. Petani di lima desa tersebut saat ini tidak bisa mengelola tanah mereka akibat luberan material dan aktivitas pekerja proyek. Padahal lahan di sekitar proyek merupakan lahan produktif. Yang lebih disayangkan lagi, selama ini pihak pelaksana proyek belum pernah membicarakan hal itu.
“Petani sama sekali belum pernah diajak rembukan, tahu-tahu sudah seperti ini, kita sudah menyampaikan keluhan tapi tidak dipedulikan,kita rencananya mau lapor presiden,” ancam Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air Ngemplak, Samidi, saat melakukan tinjauan ke lokasi, Jumat (25/1).
Terkait dengan saluran irigasi yang terlalu sempit, dikhawatirkan nanti akan menganggu suplai air untuk mengairi areal persawahan. Saluran yang ada dinilai tidak sesuai ketentuan, dimana untuk ketentuan lebar saluran 1 meter dan pembuangan dibuat secara terbuka. Namun, kenyataan di lapangan, saluran irigasi kurang dari 1 meter dan pembuangan tertutup. Kondisi ini nantinya akan menyulitkan petani membersihkan endapan.
Sugeng Mulyono, petugas pembantu Koperbal PSDA wilayah Gandul menambahkan, kondisi irigasi tersebut akan merugikan petani. Hal ini karena jika gorong-gorong irigasi dibangun sempit dan tertutup, maka sulit untuk dibersihkan dan sangat mudah mampat.

Sumber : http://www.timlo.net/baca/60036/tanah-diserobot-jalan-tol-petani-protes/

Jalan Utama Nogosari-Simo Rusak Parah

Ditulis oleh admin pada 26 Januari 2013 | 04.58

Kerusakan jalan utama Kecamatan Nogosari-Simo di Kabupaten Boyolali bertambah parah.
Kondisi menjadi lebih parah lantaran jalan rusak tersebut sudah menjadi kubangan-kubangan besar. Praktis hal tersebut kian mengancam keselamatan pengguna jalan.
Berdasarkan pantauan Solopos.com, Jumat (25/1/2013), kerusakan jalan itu bisa ditemui di antara Desa Temon dan Desa Bendungan, Kecamatan Simo.
“Jelas berbahaya, siang saja seperti ini apalagi jika malam pelintas harus lebih hati-hati,” kata salah Tri Maryanto, 42, warga Desa Ketitang, Kecamatan Nogosari yang mengaku setiap hari melintas di jalan tersebut.
Tak ada lampu penerangan di sekitar jalan itu. Pengendara sepeda motor dan mobil harus lebih bersabar memilih permukaan jalan ketika melintas. Kerusakan hingga membentuk kubangan besar tak hanya ditemui di satu titik.
Sementara itu, kerusakan jalan juga terjadi di jalan utama Nogosari-Simo, tepatnya di daerah Ngangkruk, Kecamatan Nogosari. Sepanjang sekitar 1,5 km kerusakan jalan di sana semakin parah.
“Apalagi di tanjakan Ngangkruk, jika pengendara yang baru sekali melintas pasti kaget. Harus waspada,” terang Winarno, 37, warga setempat.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/25/jalan-utama-nogosari-simo-rusak-parah-372172

Citilink Serius Buka Rute Baru dari Solo

Maskapai penerbangan Citilink menyatakan keseriusannya untuk menambah rute baru dari Solo, baik ke Surabaya, Bandung atau Makassar. Sementara Rabu (23/1/2013), Citilink resmi membuka rute Solo-Balikpapan dan sebaliknya serta Balikpapan-Jogja setiap hari.
Menurut Vice President Marketing&Communication PT Citilink Indonesia, Aristo Kristandyo, Citilink berpeluang besar membuka rute baru dari Solo karena Citilink memiliki target untuk menghubungkan semua kota di Indonesia.
”Kami sangat serius dengan rencana pembukaan rute baru dari Solo baik ke Surabaya, Bandung atau Makassar. Ada beberapa strategi yang akan kami persiapkan di antaranya mengenai waktu atau jam penerbangan yang ideal dan tepat dengan pangsa pasar serta penggunaan jenis pesawat,” kata Aristo, kepada wartawan, seusai penerbangan perdana Citilink Balikpapan-Solo, Rabu.
Menurut Aristo, Solo berpotensi sebagai kota hub untuk menghubungkan Jawa dengan beberapa kota di luar P Jawa. Sementara, target terdekat Citilink adalah menjadikan Makassar sebagai hub untuk masuk ke Indonesia bagian timur.
Dia menjelaskan, rencana pembukaan rute baru dari Solo itu juga seiring dengan target Citilink tahun ini untuk menambah frekuensi penerbangan menjadi 200 penerbangan per hari.
“Saat ini sudah ada 108 frekuensi penerbangan per hari. Frekuensi ini meningkat tajam dari posisi awal tahun 2012 yang hanya 50 frekuensi penerbangan per hari,” imbuh dia.
Citilink menargetkan tahun ini bisa mengangkut 7,8 juta penumpang. ”Konsekuensinya kami harus merambah kota-kota potensial lainnya dan tidak hanya di Jakarta.” Pihaknya optimistis dengan target ini, karena Citilink bermain di segmen low cost carier (LCC) yang membidik segmen menengah. Pasar kelas menengah saat ini dinilai tumbuh luar biasa, dan semakin menjangkau moda transportasi penerbangan.
Mengenai pembukaan rute Solo-Balikpapan, lanjut Aristo, Citilink mencoba menggarap potensi pariwisata yang ada di dua kota tersebut.
”Yang jadi keisitimewaan Citilink, kami adalah maskapai yang truly Indonesia. Kami konsen dalam pengembangan pariwisata domestik.”
Untuk itu, kata dia, Citilink memiliki website yang tidak hanya berfungsi untuk berjualan tiket saja tetapi sebagai media informasi potensi pariwisata yang ada di Indonesia.
Sementara itu, desakan kepada Citilink untuk membuka rute baru dari Solo muncul dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Pemkab Boyolali dan manajemen Bandara Adi Soemarmo Solo.
”Peluang penerbangan ke Makassar, Surabaya atau Bandung harapannya segera direalisasikan,” kata Asisten Perekonomian dan Kesra, Pemkot Solo, Eny Tyasni Susana.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/23/citilink-serius-buka-rute-baru-dari-solo-371707

SWADAYA WARGA: Jalan Antardesa Rusak Berat, Warga Jampen Gotong-Royong Merehab

Ditulis oleh Abu Jundi pada 24 Januari 2013 | 06.00

Tiga kilometer dari batas Kota Solo. Sekat batas kelas dan usia di antara warga luruh dalam semangat gotong royong. Tak nampak satu pun warga yang tidak ikut bekerja. Semuanya turun ke jalan untuk bahu-membahu membuat jalan alternatif Desa Kismoyoso-Dibal yang rusak sepanjang 100 meter.
Teriknya sengatan mentari Minggu (20/1/2013) siang tak menghalangi semangat gotong-royong sekitar 100 warga Dusun Jampen RT 001-002/ RW 006, Desa Dibal, Ngemplak, untuk urun tenaga. Laki-laki berusia belasan sampai puluhan tahun ikut larut dalam semangat kerja bakti membangun jalan.
Dibentuk dua kelompok untuk membenahi jalan desa yang lapisan cornya mulai mengelupas tersebut. Tiap kelompok berjajar membentuk barisan untuk memberikan ember berisi pasir dan batu secara estafet menuju mesin pengaduk semen. Dari mesin pengaduk semen, warga yang lain sudah menanti untuk menuangkan campuran semen, batu dan pasir ke jalanan yang akan direhab.
Rumah warga di sepanjang jalan tersebut tampak sepi karena ditinggal penghuninya. Seluruh aktivitas berpusat di jalan desa. Suasana berbeda tampak di rumah Ketua RW 006, Sri Hanto. Asap kecil tampak mengepul menembus genteng bagian belakang rumahnya. Sesekali terdengar riuh tawa kecil ibu-ibu yang sedang memasak.
Sementara laki-laki turun ke jalan desa membangun akses jalan utama mereka, perempuan warga Dusun Jampen RT 001-002/ RW 006 mempersiapkan bekal logistik untuk para pekerja. Hilir-mudik ketel berisi teh manis tak henti-hentinya mengalir untuk menyulut energi para pekerja. 100 porsi Nasi Sop dan tempe goreng telah tersaji untuk bekal makan siang.
Bendahara panitia pembangunan jalan, Sutarno, 45, ketika ditemui Solopos.com mengatakan pembangunan jalan desa ini mendapatkan sokongan dana dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kismoyoso Makmur senilai Rp15 juta. Sedangkan pembangunan jalan sendiri menghabiskan dana Rp19 juta. “Rehab jalan ini mendapatkan bantuan program jalan poros tengah pengembangan prioritas. Selain urun tenaga, warga di empat RT [RT 001-004] juga bersedia urun kekurangan dana. Masing-masing bersedia mengumpulkan dana Rp1 juta tiap RT,” jelasnya.
Warga Dusun Jampen yang ikut gotong-royong perbaikan jalan, Bowo Karsiyanto, ketika ditemui Espos, memilih ikut kerja bakti bersama dengan warga desa lainnya dibandingkan menghabiskan hari libur bersama teman-temannya. “Tiap hari lewat jalan ini. Masak tidak mau ikut membantu memperbaiki jalan,” pungkasnya.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/21/swadaya-warga-jalan-antardesa-rusak-berat-warga-jampen-gotong-royong-merehab-370786

2013, Infrastruktur Jalan di Ngemplak Boyolali Digelontor Dana Rp7,65 M

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali mengalokasikan anggaran Rp7,65 miliar untuk perbaikan jalan, pelebaran jalan, pembangunan talut dan pembangunan drainase di Wilayah Kecamatan Ngemplak.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dari UPT PU Kecamatan Ngemplak, pada 2013 ini terdapat lima proyek perbaikan jalan, satu proyek pelebaran jalan, satu proyek pembangunan drainase jalan dan satu proyek pembangunan talut.
Kepala UPT PU Kecamatan Ngemplak, Sriyono, ketika ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (23/1/2013), mengatakan perbaikan dan pembangunan infrastruktur jalan yang akan dilaksanakan tahun ini merupakan usulan warga di Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes).
“Perbaikan jalan merupakan salah satu prioritas program Bupati Boyolali. Perbaikan infrastruktur di Ngemplak ini hampir semuanya merupakan usulan warga yang ditampung melalui Musrenbangdes tahun lalu di Kecamatan Ngemplak. Jadi 2013 ini jalan dari dan ke Ngemplak sudah bagus,” terangnya.
Perbaikan jalan di Ngemplak tahun ini, papar  Sriyono, diutamakan jalan trans antardesa, antarkecamatan dan antarwilayah. “Tahun ini yang dibangun jalan penghubung desa, kecamatan dan yang ke Solo. Kalau perbaikan jalan utama Ngemplak, tidak dikerjakan tahun ini,” jelasnya.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/23/2013-infrastruktur-jalan-di-ngemplak-boyolali-digelontor-dana-rp765-m-371716

Warga Ngemplak, Boyolali Tewas Kalap di Kali Pepe

Ditulis oleh Abu Jundi pada 8 Januari 2013 | 00.33

Temuan mayat seorang perempuan di Kali Pepe di Kampung/Kelurahan Banyuanyar RT 005/RW 004, Banjarsari, Solo, Senin (7/1/2013) siang, menggegerkan warga setempat. Korban teridentifikasi bernama, Bibit Sularni, 47, warga Menggungan, Sawahan, Ngemplak, Boyolali.
Korban kali pertama ditemukan oleh, Oskar Andika Aditama, 12, warga sekitar lokasi temuan, pukul 13.00 WIB. Saat ditemui Solopos.com di lokasi penemuan, bocah lelaki itu menceritakan ia saat itu sedang memancing ikan di tepi Kali Pepe. Saat tengah mengamati pengapung pancing, tiba-tiba muncul benda berwarna hitam mirip kepala manusia. Ia pun lantas berusaha meraih benda itu menggunakan kail pancingnya.
Setelah kail menyangkut benda itu, Oskar berusaha menariknya ke tepi. Sebelum sampai ke tepi, Oskar mengetahui bahwa benda itu adalah mayat manusia. Saat itulah ia teriak histeris meminta tolong warga sekitar. Tak lama warga sekitar lokasi berdatangan berusaha mengevakuasi mayat tersebut.
“Saya kira boneka. Jadi saya pinggirkan biar pancing saya enggak menyangkut di benda itu. Ternyata benda itu mayat. Saya langsung teriak,” ulas Oskar.
Pengamatan Solopos.com, tubuh korban telah kaku dan hidungnya mengeluarkan busa. Semula warga tak mengetahui korban warga mana. Namun, ada yang kenal dan mengatakan bahwa korban warga Menggungan. Untuk memastikannya, suami korban didatangkan ke lokasi temuan. Benar saja, suami korban, Gimin, 50, membenarkan bahwa mayat itu adalah istrinya. Ratusan warga yang penasaran memadati lokasi temuan.
Gimin kepada wartawan mengungkapkan, istrinya itu keluar rumah seusai Salat Subuh berjamaah dengannya. Korban pamit berbelanja ke pasar. Namun, korban tak kunjung pulang. Hingga akhirnya ia mendapat kabar istrinya tersebut telah tewas karena kalap.
“Tak biasanya istri saya itu belanja dalam waktu yang lama. Saya sedang sakit, jadi saya hanya bisa menunggunya di rumah,” ungkap Gimin sedih.
Menurut Kanitreskrim Polsek Banjarsari, AKP Edi Hartono, mewakili Kapolsek, Kompol Andhika Bayu Adhitama, korban diduga tewas kalap beberapa jam sebelum ditemukan. Ia memastikan korban tewas akibat terhanyut di sungai. Dugaan itu diperkuat dengan tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/07/warga-ngemplak-boyolali-tewas-kalap-di-kali-pepe-365599

Kerugian Proyek Tol Capai Puluhan Miliar

Ditulis oleh Abu Jundi pada 5 Januari 2013 | 02.47

Proyek tol dikeluhkan masyarakat. Pasalnya, akses jalan desa hancur karena setiap hari dilalui truk proyek. Kerusakan terjadi di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono; jalan Ngemplak-Kliwonan, Ketitang Nogosari-Donohudan, Ngemplak serta Simo-Kalioso.
“Bagaimanapun proyek tol itu merupakan proyek nasional, sehingga mau tidak mau harus didukung meskipun konsekuensinya jalan kita rusak,” ujar Cipto Budoyo, Kepala  ungkap dia, Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral
(DPU ESDM) Boyolali,Jumat (4/1).
Diakui, untuk membangun jalan yang rusak setidaknya membutuhkan biaya miliaran. Setiap kilometer jalan rusak, membutuhkan minimal dana sebesar Rp 1 miliar.  Namun jika dibangun dengan struktur beton bertulang, butuh dana sekitar Rp 2 miliar/km.Sedangkan untuk perbaikan, pihaknya terpaksa menunggu proyek tol selesai.
Wakil Ketua DPRD Boyolali, Turisti Hindriya menambahkan, kerusakan jalan akibat proyek tol juga menimpa banyak jalan desa. Di antaranya jalan Desa Sambon, Kecamatan Banyudono dan jalan Desa Guokajen, Kecamatan Sawit. Jalan hancur karena dilalui truk pengangkut tanah uruk proyek tol.
Ditemui di lokasi proyek pengerukan tanah, mandor proyek, Kabul mengakui kerusakan jalan di Desa Sambon dan Desa Guwokajen. Pihaknya menyatakan siap bertanggungjawab untuk melakukan perbaikan. Saat ini tanah diuruk dengan sirtu.
“Nanti kalau proyek sudah selesai, jala diaspal lagi. Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan kedua pemerintah desa tersebut.”

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_kedu/2013/01/04/140282/Kerugian-Proyek-Tol-Capai-Puluhan-Miliar

ADD 2013 Boyolali Naik 50%

Alokasi dana desa (ADD) Boyolali tahun ini meningkat 50 persen dibanding ADD 2012. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan warga diminta turut mengawasi jalannya pelaksanaan pemerintahan desa untuk mencegah penyelewengan dana tersebut.
Bupati Boyolali Seno Samodro mengatakan 30 persen dari nilai ADD itu digunakan sebagai tambahan penghasilan perangkat desa. Selebihnya, anggaran dipergunakan untuk pembangunan. “Ini naik dan berlaku ke seluruh desa di Boyolali,” kata Seno di depan wartawan, pekan ini.
Tingkat kenaikan ADD itu, lanjut dia, tidak berlaku bagi desa yang dinilai memiliki potensi pendapatan desa tinggi. Dia menyontohkan hal itu seperti di Desa Kebon Bimo, yakni memiliki pendapatan tinggi lantaran ditopang potensi Objek Wisata Tlatar.
Sebelumnya, Wakil Bupati Boyolali Agus Purmanto menerangkan ADD 212 sekitar Rp36 miliar. “Tahun lalu Rp36 miliar, jadi naik 50 persen. Total desa di Boyolali ada 261,” katanya kepada Solopos.com.
Agus berharap pemerintahan desa dengan dukungan ADD itu dikawal bersama-sama. Salah satunya, dia berpesan kepada para anggota BPD yang belum lama ini serentak dilantik untuk cermat mengawasi hal tersebut.
“BPD termasuk ujung tombak pemerintahan, desa kan juga pemerintahan. Maka, BPD harus juga peka dalam mengembangkan wilayah, harus tahu aspirasi warganya sehingga program-program pemerintah seperti ini tepat sasasaran,” tandasnya.
Dia menyebut ADD juga bertujuan pemerataan, mengangkat desa-desa yang dianggap masih tertinggal dalam pembangunan. Dia tak mengelak wilayah utara Boyolali masih belum setara dalam hal pembangunan dengan bagian selatan.
Mengenai hal itu, Agus menyebut faktor utamanya adalah sumber daya manusia (SDM). “Tergantung SDM. Di utara bukan berarti tak ada SDM yang baik tapi permasalahan di sana adalah minat warga [yang dinilai berkualitas] menjadi perangkat masih minim, ditambah faktor geografi yang berat,” tukasnya.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/04/add-2013-boyolali-naik-50-364704

KREDIT MACET: Tunggakan Angsuran Pasar Gagan Baru Capai Rp400 Juta

Pengembang Pasar Gagan Baru, CV Sarana Mandiri, mengeluhkan tunggakan angsuran pedagang atas kepemilikan kios dan los yang mencapai Rp400 juta. Sebanyak 30% pedagang Pasar Gagan Baru belum melunasi sisa angsuran. Pengembang menilai Perdes Donohudan, sebagai pemilik pasar, cuek pada penanganan tunggakan pedagang.
Staf Pengembang Pasar Gagan Baru, Iksan, kepada Solopos.com mengeluhkan pembayaran angsuran pembayaran kios dan los milik pedagang di Pasar Gagan Baru yang mencapai Rp400 juta. “Pedagang yang ditagih selalu berkilah usaha mereka sepi atau uang angsuran pasar sudah terlanjur digunakan untuk investasi mobil atau tanah. Padahal kami sudah berulang kali memberi pengertian kepada pedagang, sebelum pelunasan pedagang tidak diberi Sertifikat Hak Milik (SHM). Kerugian terbesar ada di tangan pedagang yang tidak memiliki SHM,” paparnya
SHM yang sudah dikantongi pedagang, lanjut Iksan, menjadi penting ketika pendataan, pengajuan permodalan atau penjualan kios. “Sebentar lagi masa pengelolaan kami [pengembang] berakhir. Di sini juga ada Pilkades. Usai pilkades pasti ada pendataan ulang. Kalau pedagang disuruh pergi karena belum punya SHM, pasti tidak mau karena merasa sudah menyicil walaupun belum lunas. Kami juga akan mengembangkan proyek baru, sehingga pengurusan SHM nantinya lebih rumit,” jelasnya.
Iksan mengimbau kepada pedagang Pasar Gagan untuk segera melunasi pembayaran sebelum akhir Januari 2013. “Pelunasan angsurannya sebenarnya tidak terlalu besar. Hanya Rp1 juta-Rp2 juta. Namun pedagang menganggap remeh. Saat ini kami memang lunak, namun nanti kalau ganti pengelola, pengurusan SHM mungkin lebih sulit karena yang menangani berbeda,” terangnya.
Iksan menilai, Pemdes Donohudan sebagai pemilik pasar cuek pada pelunasan angsuran di Pasar Gagan Baru. “Dari tujuh pasar yang kami kembangkan di beberapa daerah, ini yang paling sulit karena kerja sama dengan pemdes kurang optimal. Karena ini [Pasar Gagan] aset desa, semestinya perdes lebih proaktif dalam memantau asetnya,” ungkapnya.
Terpisah, Kaur Umum Desa Donohudan, Paryono, menjelaskan pihaknya tidak turut campur pada pelunasan angsuran. “Kalau pelunasan itu urusan pengembang dan lurah pasar. Desa tidak tahu-menahu urusan tunggakan. Dulu memang sempat ada omong-omongan, tapi kami sudah melimpahkan ke lurah pasar dan pengembang,” tukasnya.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/03/kredit-macet-tunggakan-angsuran-pasar-gagan-baru-capai-rp400-juta-364126

BANJIR: Anak-Anak pun Manfaatkan Sawah yang Tergenang untuk Berenang

Ditulis oleh Abu Jundi pada 3 Januari 2013 | 01.21

Di tengah deru kendaraan yang hilir mudik, tawa riang terdengar dari tepi Jl Raya Ngemplak-Pandeyan RT 003/006, Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, saat Solopos.com melintas Selasa (1/1/2013) pagi. Sumber suara tersebut berasal areal persawahan milik warga yang terendam banjir.
Banjir yang sedianya menjadi musibah bagi pemilik lahan yang tergenang, menjadi berkah tersendiri bagi tiga sekawan asal Dusun Tambas, Kismoyoso, Ngemplak. Ketiga anak usia sekolah dasar tersebut bersuka cita memanfaatkan area sawah yang tergenang menjadi lahan untuk berenang.
Diki Prasetyo Aji, 8, tampak asyik melompat dari jembatan bambu menuju ke sawah yang terendam. Usai melompat, Diki berenang mengitari tepi sawah yang cukup dalam. Sesekali siswa Kelas II MI Muhammadiyah Tambas tersebut, bercanda bersama dua temannya, Feri 10, dan Pakri, 8, di dalam area kolam renang dadakan setinggi dadanya tersebut.
Tak mau ketinggalan, Feri, 10, juga memanfaatkan saluran pembuangan bendungan sungai yang membeludak sebagai arena seluncuran. Meskipun seluncuran hanya sepanjang satu meter, namun tak mengurangi keseruan permainan dadakan tiga sekawan tersebut.
Diki yang mengendarai sepeda sejauh satu kilometer dari rumahnya, mengaku sebelumnya hanya berniat memancing di kali. Namun melihat genangan air di sawah, dia bersama dua orang temannya terpikat untuk berenang. “Tadinya hanya mau memancing. Tapi melihat genangan air, jadi ingin berenang. Kalau berenang di kolam renang harus bayar, saya tidak punya uang. Jadi berenang di sini saja. Gratis. Nanti sampai di rumah mandi, jadi tidak perlu khawatir terserang gatal,” ujarnya polos. Seusai berenang, ketiga bocah tersebut memancing di tepi kali. Untuk mengeringkan badan dan celana, ketiganya duduk di tangga menara pandang milik bekas restoran di Jl Raya Ngemplak-Pandeyan.
Penggarap lahan pertanian yang tergenang, Warto, 70, menuturkan beberapa anak dari Desa Pandeyan dan Kismoyoso memang kerap memanfaatkan sawah yang tergenang tersebut untuk berenang dan memancing. “Itu sudah sering. Biasanya anak-anak memancing, kalau tidak ya berenang,” ungkapnya. Warto mengaku, areal persawahan yang terletak di tepi proyek pembangunan Jalan Tol Solo-Kertosono tersebut kerap tergenang air saat musim penghujan. “Sudah berkali-kali terendam air, biasanya kalau hujan deras,” keluhnya.
Kepala Desa Pandeyan, Sukasno, mengaku pihaknya sudah menghubungi pihak Satker proyek pembangunan jalan tol Soker untuk memperbaiki saluran air yang tersumbat. “Saluran air sudah dibenahi oleh pihak Satker. Tapi karena hujan dan debit airnya cukup banyak, jadi 7 patok-10 patok sawah kembali terendam,” pungkasnya.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/01/banjir-anak-anak-pun-manfaatkan-sawah-yang-tergenang-untuk-berenang-363743

Tahun Baru, Harjo Akhiri Hidup dengan Gantung Diri

Sementara sebagian besar warga memulai lembaran tahun 2013, Yatin Harjo S, 80, warga Donohudan RT 005/RW 002, Kecamatan Ngemplak, memilih mengakhiri hidupnya.  Dia ditemukan gantung diri di kandang kayu dalam pekarangan rumahnya, Selasa (1/1/2013) sekitar pukul 03.30 WIB.
Informasi itu disampaikan Kapolsek Ngemplak, AKP Dwi Wahyuni kepada Solopos.com, Selasa sore.
“Tak ada tanda-tanda aniaya setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter dari puskesmas. Selanjutnya [jenazah] diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan,” terang Dwi mewakili Kapolres Boyolali AKBP Budi Haryanto, lewat pesan singkatnya.
Menurut informasi yang diterima, lanjut Dwi, korban telah lama menderita komplikasi penyakit. Korban juga diketahui mengidap penyakit katarak. Dwi menjelaskan  korban menggunakan tali plastik untuk gantung diri. Kandang kayu yang dimaksud adalah tempat menyimpan kayu bakar.
“Kandang atau tempat menyimpan kayu bakar. Tali plastiknya itu seperti tali yang dipakai untuk jemuran,” tambah Dwi.
Dwi mengutarakan korban tinggal di rumah sendiri. Sementara putra-putranya tinggal di rumah berbeda walaupun masih di lingkungan sama.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/01/tahun-baru-harjo-akhiri-hidup-dengan-gantung-diri-363654

LAPTOP GURU SERTIFIKASI: Belum Ada Tanggapan, Ombudsman Layangkan Surat Kedua

Ditulis oleh Abu Jundi pada 25 Desember 2012 | 10.33

Lembaga negara pengawas pelayanan publik, Ombudsman RI, akan kembali melayangkan surat kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Boyolali, untuk meminta klarifikasi terkait persoalan penjualan laptop bagi guru besertifikat di Kota Susu yang dinas tersebut. Hal itu menyusul belum adanya tanggapan terhadap surat klarifikasi pertama yang telah dikirimkan Ombudsman kepada Disdikpora sebelumnya.
Hal itu dikemukakan Asisten Perwakilan Ombudsman RI Perwakilan Jateng dan DIY, Nurcholis, ketika dihubungi Solopos.com melalui ponselnya, Senin (24/12/2012).
Nurcholis mengemukakan melalui surat pertama yang dikirimkan kepada Disdikpora Boyolali, akhir November 2012, Ombudsman bermaksud meminta klarifikasi atau penjelasan tentang mencuatnya persoalan terkait penjualan laptop bagi guru besertifikasi di wilayah tersebut. Langkah itu, lanjut dia, merupakan tindak lanjut Ombudsman terhadap laporan dari anggota DPRD Boyolali, Thontowi Jauhari terkait persoalan laptop tersebut.
“Kami berharap segera ada tanggapan dari Disdikpora Boyolali, setidaknya dua pekan setelah surat diterima. Kami masih memantau selama dua hingga tiga pekan ini. Tapi sejauh ini kami belum memperoleh tanggapan terhadap surat yang kami kirimkan beberapa waktu lalu,” terang Nurcholis.
Jika Disdikpora Boyolali tak kunjung memberikan tanggapan terhadap surat Ombudsman tersebut, Nurcholis menyatakan akan ada surat kedua yang dilayangkan kepada dinas itu.
“Jika ternyata tidak ada tanggapan lagi, maka kami akan datang langsung untuk meminta klarifikasi jajaran Disdikpora Boyolali,” imbuh dia.
Ditemui terpisah belum lama ini, Bupati Boyolali, Seno Samodro, didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, Sri Ardiningsih, mengakui surat dari Ombudsman yang mempertanyakan persoalan penjualan laptop bagi guru besertifikasi di Boyolali sudah diterima jajaran Pemkab, khususnya Disdikpora. Baik Bupati maupun Sekda mengatakan tanggapan terkait persoalan itu telah disiapkan.
“Nanti dengan Disdikpora langsung yang menyampaikan penjelasan atau klarifikasinya,” ungkap Sekda ketika dimintai tanggapan terkait persoalan tersebut, tanpa menyebutkan perihal jawaban surat untuk Ombudsman.
Sementara dalam menyikapi persoalan penjualan laptop kepada guru besertifikasi tersebut, menurut Bupati, itu tidak menyalahi aturan mengingat tidak menggunakan uang APBD.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/12/24/laptop-guru-sertifikasi-belum-ada-tanggapan-ombudsman-layangkan-surat-kedua-361507

2013, Boyolali Ajukan 1.859 Lowongan CPNS

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali berencana mengajukan 1.859 lowongan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2013 mendatang.
Jumlah tersebut terdiri atas tiga formasi, yakni tenaga guru sebanyak 604 orang, tenaga kesehatan sebanyak 401 orang dan tenaga teknis lainnya atau tenaga administrasi sebanyak 854 orang.
Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Boyolali, Untung Raharja, mengemukakan pemberlakuan moratorium oleh pemerintah pusat hingga akhir 2012 ini berdampak pada menyusutnya jumlah PNS, mengingat banyak abdi negara tersebut yang pensiun dan meninggal dunia. Jumlah PNS 2010 tercatat 12. 758 orang, kemudian 2011, menurun menjadi 12.435 orang.
”Tahun ini, dengan adanya yang pensiun dan meninggal dunia, jumlahnya kembali berkurang menjadi 11.882 orang,” ujar Untung kepada Solopos.com, Senin (24/12/2012).
Untung mengakui terus berkurangnya jumlah PNS tersebut berdampak pula terhadap kinerja pemerintahan. Terkait rencana pengajuan 1.859 lowongan CPNS tersebut, dikatakan Untung, tentunya menunggu persetujuan dari pemerintah pusat.  “Realisasinya memang sangat bergantung pada pertimbangan pemerintah pusat. Namun untuk kesiapan, kami telah mengalokasikan anggaran untuk rekrutmen CPNS 2013 dan sudah disetujui DPRD,” katanya.
Hal senada dikemukakan Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, Sri Ardiningsih. Sekda mengatakan realisasi rekrutmen CPNS bergantung pada kebijakan dari pemerintah pusat.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/12/24/2013-boyolali-ajukan-1-859-lowongan-cpns-361472

Ganti Rugi Proyek Tol Belum Jelas, Warga Datangi DPRD

Ditulis oleh Abu Jundi pada 22 Desember 2012 | 04.44

Sekitar 20 warga Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, mendatangi DPRD setempat, Kamis (20/12/2012). Melalui audiensi dengan jajaran Pimpinan DPRD yang dipimpin langsung Ketua DPRD Boyolali, S Paryanto, warga tersebut mengadukan proses ganti rugi proyek jalan tol Solo-Kertosono (Soker) yang mengenai lahan mereka. Para warga tersebut didampingi LSM Omah Rakyat Boyolali (ORB).
Sebagaimana diketahui, hingga kini belum ada titik temu antara warga dengan pemerintah terkait nilai ganti rugi dalam proyek itu.
Salah seorang warga pemilik lahan yang akan terkena proyek jalan tol, Supardi, 77, menuturkan nilai ganti rugi lahan yang ditawarkan pemerintah terlalu rendah dan masih jauh dari permintaan mereka.
“Tanah saya tepat di pinggir jalan raya Waduk Cengklik. Nilai ganti rugi yang ditawarkan pemerintah hanya Rp325.000, sementara saya mintanya per meter dihargai Rp1,5 juta. Tentu saja saya tidak mau,” ungkap Supardi ketika ditemui wartawan di Gedung Dewan Boyolali, Kamis.
Supardi menambahkan nilai ganti rugi untuk warga yang lahannya terkena proyek jalan tol itu sangat rendah. Untuk lahan yang masuk kelas satu yaitu yang berada di pinggir jalan, penawaran pertama hanya senilai Rp125.000/m2. Kemudian penawaran kedua senilai Rp325.000/m2.
Warga lainnya, Alif Fahmi, mengaku dirinya masih belum mengetahui pasti lokasi mana saja yang bakal terkena proyek jalan tol tersebut.
“Terus terang warga juga masih bingung mana saja lahan yang akan terkena proyek jalan tol itu,” kata Alif.
Koordinator ORB, Marini, mengungkapkan terkait pelaksanaan proyek jalan tol itu, baru digelar dua kali pertemuan dengan Panitia Pengadaan Tanah (P2T).
“Pertemuan sempat gagal karena warga walk out, warga beralasan P2T tidak memahami lokasi dan harga tanah di sana. Dalam hal ini, kami minta supaya ada transparansi,” kata Marini.
Terkait kedatangan warga tersebut, Paryanto menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti persoalan itu dengan melakukan koordinasi dengan Pemkab Boyolali.
“Dalam hal ini, kami tidak bisa mengambil keputusan sendiri namun akan secepatnya kami koordinasikan dengan Pemkab dan instansi terkait,” kata Paryanto yang siang itu didampingi Wakil Ketua DPRD Boyolali, Sujadi dan Ketua Komisi I DPRD, Eka Wardaya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/12/20/ganti-rugi-proyek-tol-belum-jelas-warga-datangi-dprd-360365

Dinkes Bantah Temuan Sidak DPRD di Puskesmas Ngemplak

Ditulis oleh admin pada 20 Desember 2012 | 10.24

Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali membantah temuan sidak DPRD di Puskesmas Ngemplak yang dinilai menyalahi bestek. DKK juga membantah telah terjadi subkontrak yang dilakukan pelaksana pembangunan kantor dan selasar Puskesmas Ngemplak.
Kepala DKK Boyolali, Syamsudin, ketika ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (18/12/2012), menegaskan pelaksana pembangunan sudah melaksanakan pembangunan sesuai rencana anggaran biaya (RAB) bangunan.
“Pembangunan selasar puskesmas sudah sesuai RAB. Tinggi tiang kanopi yang terpasang sudah 2m. Kalau parkir mobil ambulance tidak cukup karena tinggi tiang kanopi yang kurang, itu bukan salah kontraktor, itu permintaan user [Pengelola Puskesmas Ngemplak]. Parkir ambulance memang tidak seharusnya di situ. Pembangunan bertahap, parkir dibuatkan di tahun anggaran 2013,” jelasnya.
Syamsudin juga membantah temuan DPDR Boyolali mengenai subkontrak pembangunan Puskesmas Ngemplak. “Tidak ada subkontrak di sana. Kontraktor yang basic-nya bangunan, menggunakan tenaga profesional untuk memasang tiang kanopi. Mereka menggunakan jasa tukang las. Itu kan wajar,” tegasnya.
Disinggung mengenai keterlambatan proyek pembangunan di Puskesmas Ngemplak, Syamsudin mengaku sudah memberikan pinalti pada pelaksana proyek pembangunan.
“Kami sebenarnya sudah melakukan evaluasi dua pekan jelang masa berakhirnya kontrak pembangunan [Jumat (23/11)]. Saat itu pembangunan 70%. Namun karena kekurangan tenaga, pembangunannya molor. Saat ini kontraktor sudah dijatuhi denda keterlambatan 28 hari,” tandasnya.
Sebelumnya, DPRD Boyolali sidak persiapan penambahan fasilitas rawat inap di Puskesmas Ngemplak yang sering mengalami overload. Saat sidak, DPRD menemukan kejanggalan pada pembangunan kantor dan selasar yang baru selesai dibangun tersebut. DPRD menilai pembangunan selasar menyalahi bestek dan kontraktor melakukan subkontrak.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/12/19/dinkes-bantah-temuan-sidak-dprd-di-puskesmas-ngemplak-359663

Waduk Cengklik Gagal Dikeruk Tahun Ini

Rencana pengerukan Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali gagal dilakukan tahun ini (2012). Mestinya sendimentasi Waduk Cengklik akan dikeruk dalam dua tahap dengan dana Rp 20 Miliar. Pengerukan tersebut akan dilakukan pada tahap pertama dengan dana Rp 5 Miliar yang mestinya sudah dilakukan tahun ini, namun gagal terealisasi. Pengerukan dengan anggaran APBN ini baru akan dilakukan pada tahun depan.
Hal tersebut diungkapkan Assisten 2 Setda Boyolali, Juwaris. Pihaknya tidak mengetahui pasti alasan gagalnya pengerukan sendimentasi Waduk Cengklik pada tahap pertama tersebut. Pasalnya pengerjaan pengerukan dilakukan oleh Dinas Pengairan Provinsi Jawa Tengah. Mestinya, pengerukan akan dilakukan pada bulan November kemarin.
“Untuk tahun ini gagal dilakukan, baru akan dilakukan nanti tahun depan,” tandas Juwaris, Rabu (19/12).
Terkait dengan rencana pengerukan yang akan dilakukan pada tahun depan (2013), pihaknya akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait. Mengingat air di Waduk Cengklik banyak dimanfaatkan petani untuk pengairan dan perikanan. Dengan koordinasi tersebut, pihaknya berharap tidak akan ada masalah dengan pengguna air waduk saat dikeruk.
Di sisi lain, Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3) Tri Mandiri Sejahtera, Kecamatan Ngemplak, Samidi, mendukung upaya pengerukan Waduk Cengklik. Mengingat kondisi waduk semakin dangkal akibat sedimentasi. Aliran air yang masuk waduk membawa serta lumpur. Akibatnya, daya dukung waduk untuk menampung air semakin berkurang. Tingkat sendimentasi mencapai 8,5 juta m3 dan daya tampung air tinggal 9 juta m3.

Sumber : http://www.timlo.net/baca/53568/waduk-cengklik-gagal-dikeruk-tahun-ini/

Harga Telur dan Daging Ayam Merangkak Naik

Harga telur ayam negeri mulai merangkak naik dalam tiga hari terakhir. Di Pasar Gagan, Desa Donohudan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Selasa (18/12/2012), harga telur  tembus Rp15.500/kilogram (kg).
Seperti diterangkan salah satu penjual di sana, Mulyani, 50, kepada Solopos.com, kemarin.
“Kemarin, saya kulak Rp14.100/kg tapi untuk eceran tetap kami jual Rp15.000. Ada juga yang jual Rp15.500/kg,” kata dia.
Pedagang lainnya, Wanti, 37, menjelaskan kenaikan harga itu menjadi tren mendekati Natal dan tahun baru. Kenaikan harga dikatakannya merangkak dari Rp14.000/kg menjadi Rp14.500/kg kemudian pada Selasa dia membanderol harga Rp15.000/kg.  “Harga mulai naik Sabtu (15/12/2012) sore,” imbuhnya.
Selain telur, lanjut dia, ditemui pula kenaikan harga beras. Beras jenis mentik wangi, Selasa, dikulak seharga Rp8.500/kg dan dijual Rp9.000/kg. Padahal dia menjual beras jenis itu Rp8.500/kg pada Senin (17/12/2012).
“Beras jenis 64 pun naik dari Rp8.000/kg menjadi Rp8.300/kg, beras lokal juga naik rata-rata Rp300/kg,” ujarnya.
Selain dua jenis kebutuhan itu, kenaikan harga juga berlaku untuk daging ayam. Harga daging ayam mulai meroket dari Rp20.000/kg, awal pekan lalu, menjadi Rp24.000/kg, Selasa.
“Kami kulak dalam kondisi kotor Rp17.000/kg padahal sebelumnya Rp11.500/kg. Kenaikan harga terjadi pada daging yang kami kulak dan kenaikan harga jual belum bisa mengimbangi harga ambil kami,” terang salah satu penjual daging ayam di pasar itu, Parmini, 32.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/12/19/harga-telur-dan-daging-ayam-merangkak-naik-359681

PROYEK TOL SOKER: Warga Donohudan Ajukan Underpass

Ditulis oleh admin pada 18 Desember 2012 | 09.35

Warga Donohudan, Kecamatan Ngemplak, meminta dibangunkan underpass untuk memperlancar mobilitas mereka di jalan yang bakal menjadi jalur Tolo Solo-Kertosono (Soker). Kades Donohudan, Sutrapsilo Wibowo mengklaim usulan itu telah disetujui oleh satuan kerja (Satker) Tol Soker.
Sutrapsilo menjelaskan usulan tersebut didasari prediksi atas kesulitan warga mengakses prasarana jalan. Seperti yang terlihat di sejumlah jalan desa di Donohudan dan Desa Pandeyan saat ini, pelaksana proyek tol Soker mambangun overpass sebagai pengganti akses jalan warga itu.
“Pertimbangannnya banyak warga yang masih menggunakan sepeda, bronjong, ada juga pelajar, di antaranya beraktifitas dengan jalan kaki,” jelas dia kepada Solopos.com, Senin (17/12/2012).
Pertimbangan lainnya, lanjut Sutrapsilo, jalur tol tersebut membelah bagian Desa Donohudan menjadi dua. Jalur yang melintang dari barat ke arah timur itu dinilai bakal membatasi akses warga ke berbagai pusat kegiatan.
“Instansi seperti ke Kantor Desa, sekolahan, pasar, pusat kegiatan warga ada di sebelah selatan jadi akses itu penting,” imbuhnya.
Mengenai hal itu, dia menyebut telah menyampaikan permasalahan kepada pejabat Satker Tol Soker. Hal itu terjadi dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu.
Menurut Sutrapsilo, pembahasan itu memicu kesediaan Satker Tol membangun underpass. “Pengajuan berjalan dan April nanti pelaksanaannya,” tambahnya.
Keluhan pengganti jalan desa berupa overpass itu juga disampaikan sejumlah warga Desa Pandeyan. Baru-baru ini, Kades Pandeyan, Sukasno mengonfirmasi warganya mengeluhkan prasarana tersebut.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/12/18/proyek-tol-soker-warga-donohudan-ajukan-underpass-359170

2012, Bandara Adi Soemarmo Rugi Rp13,7 M

Kondisi tak seimbang antara pendapatan dan biaya operasional membuat Bandara Internasional Adi Soemarmo berlanjut mengalami kerugian. Hingga menginjak pertengahan Desember ini, bandara yang terletak di Ngemplak, Boyolali itu, dinyatakan mengalami kerugian Rp13,7 miliar.
Nilai kerugian itu dikatakan General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo Solo, Abdullah Usman, menurun dibanding kasus 2011, yakni menyentuh Rp18 miliar. “Ya memang kerugian mencapai Rp13, 7 miliar. Pendapatan tak sebanding dengan operasional yang mencapai Rp28 miliar/tahun,” kata Abdullah Usman saat ditemui Solopos.comdi ruang kerjanya, Senin (17/12/2012).
Biaya operasional itu antara lain pemeliharaan gedung, kebersihan. Dia mencontohkan tingginya biaya listrik pada November, yakni Rp350 juta.
Disinggung mengenai banyaknya penumpang yang diterbangkan lewat bandara tersebut, Abdullah Usman menjelaskan rata-rata jumlah mencapai 1.852 orang/bulan. Hingga saat ditemui Espos itu, dia menyebut penumpang yang diberangkatkan mencapai 20.372 orang.
“Itu pemberangkatan, belum kedatangan, jadi termasuk haji,” ujarnya.
Dia mengakui terjadinya tren pilihan penumpang Solo dan sekitarnya yang memilih terbang lewat bandara di Jogja. Seperti pejabat sebelumnya, dia menyebut kendala aksesbulitas ke bandara tersebut menjadi faktor penyebab minimnya minat penumpang.
Meskipun demikian, dia bertekad mengembangkan potensi layanan untuk menarik minat penumpang. Tahun depan, dia mengaku merealisasikan sejumlah rencana. “Segala kebutuhan penumpang, 2013 nanti, akan kami sediakan. Mulai penginapan mobil 24 jam, prosedur satu kali pemeriksaan bagi penumpang yang masuk, saat ini dua kali jadi akan menambah kenyamanan,” sebutnya.
Selain itu, dia berharap terbukanya jaringan terbang ke Makasar, Bali, Surabaya dan Jeddah atau Madinah yang bisa dilayani setiap hari.
“Seperti umrah, harapan kami bisa setiap dua hari,” katanya.
Saat ini Bandara Adi Soemarmo, lanjut dia, memiliki jadwal operasi 14 jam/hari. Slot time atau jeda waktu penerbangan masih terlalu longgar. “Saat ini ada 20 sorti, jeda 1 jam 40 menit padahal standar jeda pesawat datang pergi 30 menit, jadi amsih sisa 60 sorti lagi,” tandasnya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/12/18/2012-bandara-adi-soemarmo-rugi-rp137-m-359167
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngemplak Go Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger